Jumat, 30 Januari 2009

Rumus Tukang Parkir

Salah satu sebab busuk hati adalah cinta dunia.

Cirinya:

1. Pengorbanan yang terlalu
2. Tidak pernah puas
3. Anggap remeh ibadah
4. Hidup selalu takut

untuk menghindarinya lihatlah tukang parkir (ibaratkan), walaupun banyak mobil mewah atau motor bagus dia tidak sombong dan selalu merasa bukan miliknya tapi tanggung jawabnya. Jika satu persatu pergi meninggalkannya, dia tidak akan sedih tetapi tetap senyum dengan ikhlas.

Perbahasa

Telunjuk juga mencocok mata
Org yg dipercaya atau keluarga sendiri juga yg biasa mencelakakan kita

Telunjuk lurus kelingking berkait
Seseorang yg kelihatan baik sesungguhnya hatinya jahat

Tambah air tambah sagu
Tambah kerjaan tambah pula upahnya

Tangan mencencang bahu memikul
Siapa yg bersalah dialah yg menerima hukuman

Tarik daun ambil buah
Perundingan yg singkat ringkas tapi tepat

Takkan pisang berbuah dua kali
Takkan org pandai tua pengalaman tertipu dua kali

Tak lekang oleh panas tak lapuk oleh hujan
Peraturan atau adat yg tak pernah berubah

Takut itik lalu tumpah
Takut rugi sedikit jadi rugi besar

Tak berkain sehelai benang
Org yg amat miskin

Takkan bungkuk sebab menyuruk
Tdk akan jadi hina melakukan pekerjaan yg dianggap rendah bila utk keselamatan diri sendiri

Takkan harimau makan anaknya
Marah seseorang kpd anak tdk akan sampai membunuh

Takkan lari gunung dikejar hilang kabut tampaklah dia
Tak usah buru-buru mengejar sesuatu yang telah tentu duduknya

Sudah panas hari lupa kacang akan kulitnya
Sudah kaya atau pangkat tinggi lupa sahabatnya

Tak ada gading yg retak
Tdk ada sesuatu yg sempurna

Tak ada laut yg tdk berombak
Tdk ada usaha yg tdk berbahaya

Tak ada gunung yg tinggi yg tak dapat didaki, tak ada lembah yang dalam yg tak dapat dituruni asal ada kemauan
Asal degn kemauan keras suatu pekerjaan akan berhasil

Setinggi-tinggi bangau terbang hinggapnya di kubangan juga
Sejauh-jauh merantau nantinya akan balik ke kampung halamannya juga

Silang berpangkal kerja berjunjung
Jika ada pekerjaan besar hendaknya ada yg di tuakan atau kepala supaya selamat

Silap mata pecah kepala
Harus selalu awas kalau badan tdk ingin celaka

Singkat minta diulas panjang minta dikerat
Mana yg salah mohon diperbaiki

Seperti cacing kepanasan
Org yg sangat gelisah krn dpt malu besar

Sesal dahulu pendapatan sesal kemudian tak berguna
Jika akan melakukan suatu pekerjaan hendaklah dipikir dahulu supaya tdk menyesal kemudian

Sesat diujung jalan surut ke pangkal jalan
Jika pembicaraan menyimpang harus kembali ke awal masalah

Sesat surut terlangkah kembali
Kalau salah segera minta maaf

Setali pembeli kemenyan sekupang pembeli ketaya, sekali lancung ke ujian seumur hidup org tak percaya
Sekali kedapatan org lain bertingkah buruk seumur hidup org tak percaya

Setali tiga uang
Sama saja

Seperti telur diujung tanduk
Belum mantap masih training

Seperti terung masak serumpun
Sekeluarga bahagia jadi org semua

Seperti menyandang luka tiga
Amat sulit memerintah org yg tdk semufakat

Seperti org buta kehilangan tongkat
Org bodoh yg kehilangan akal krn org yg biasa menolongnya tdk ada

Seperti pucuk eru
Selalu ikut-ikutan

Seperti parang bermata dua
Bermata pencaharian dua atau dua sumber rejeki

Seperti pinang di belah dua
Mirip sekali

Seperti pungguk merindukan bulan
Hal yg tak mungkin

Seperti raja dan menteri
Bersesuaian dlm segala hal

Seperti rusa masuk kampung
Org dusun masuk kota

Seperti rabuk dgn api
Tak lepas dari bahaya

Seperti kuali tertelungkup
Kulitnya hitam pekat

Seperti kucing lepas senja
Sulit dicari perginya

Seperti makan buah simalakama, dimakan bpk mati tiada dimakan ibu mati
Serba salah

Seperti kerbau dicocok hidung
Perihal org yg turut saja walau menyusahkannya

Seperti ketiak ular
Tdk ada keputusan

Seperti harimau menyembunyikan kuku
Org yg menyembunyikan kepandaiannya

Seperti ikan dalam belanga
Sudah dlm genggaman

Seperti ilmi padi makin berisi makin merunduk
Makin tinggi ilmu seseorang makin halus budi pekertinya

Seperti embun di ujung rumput
Kasih sayang tiada kekal

Seperti embun turun senja
Manis jelita menarik hati

Seperti bertandang di surau
Tamu tdk disuguhi apa-apa

Seperti biduk dikayuh hilir
Menyuruh org ke tmpt yg ia suka tentu senang

Seperti bulan kesiangan
Pucat krn selalu sedih

Seperti api dalam sekam
Dalamnya hancur luarnya tdk terlihat

Seperti batu jatuh ke lubuk
Telah pergi dan tdk pernah kirim kabar

Sepandai-pandai membungkus, yg busuk tercium juga
Perbuatan jahat lama-lama akan terungkap juga

Senin, 12 Januari 2009

Pintar dan Bodoh

Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakanmu dari segumpal darah.

Bacalah dua ayat Allah yaitu yang tersurat (wahyu) dan yang tersirat (yang dititah yaitu alam semesta).

Orang bodoh diibaratkan bagaikan mayit yang berjalan di muka bumi. Sedang orang pintar digambarkan tidak akan mati walaupun jasadnya ditelan bumi.

Orang bodoh kalah dengan orang pintar, orang pintar kalah dengan orang yang kebenaran (untung), orang kebenaran kalah dengan orang benar (jujur).

Sawang Sinawang

Urip ning dunya jarene sawang sinawang, nanging

Yen urusan dunya sawango ngisore

Lan yen urusan akhirot sawango nduwure

Ojo iri karo konco, karo tonggo, karo sepodopodo

sebab rejeki wis diatur sing nggawe urip

Hati Hanya Bisa Disentuh Dengan Hati

Gunakan hati dalam setiap aktivitasmu.

Masah terbesar dalam hidup ini adalah selalu menyalahkan orang lain yang belum tentu salah.

Siapa saja yang sering bercermin pasti akan terasa bertambah baik (ganteng dan cantik). Bercerminlah sampai ke dalam hati (introspeksi diri), jamgan selalu menilai orang lain dari keburukannya karena keburukan orang lain akan terlihat sendiri suatu saat.

Bercermin lebih baik daripada berfoto

Hati Yang Bersih karena Ikhlas

Allah SWT pasti tahu isi hati kita, maka selalu mohon ampun kepada-Nya. Berbuat sesuatu harus dengan niat yang kuat karena Allah SWT yang disebut doa. Berbuat baiklah kepada orang lain karena Allah bukan karena makhluk (bukan ingin dipuji atau Asal Bapak Senang, tidak enak atau satu ikatan/organisasi), inilah yang disebut ikhlas.

Istiqomah dalam berbuat baik tanpa memperhatikan respon orang yang dibantu atau orang lain yang mengetahuinya.

Mulailah dengan berbicara dan bertindak apa adanya, jangan terlalu banyak dalil dan puisi, sambil terus belajar memperbaiki diri. Sesungguhnya yang kita butuhkan adalah cermin bukan potret.

Mendeteksi keikhlasan dengan cara lahiriyah dapat kita lihat, misalnya anak kecil yang betah dengan kita atau orang cacat yang dekat dengan kita.

Tiada daya dan upaya melainkan hanya kepada Allah SWT.